Pagi Senin di Bursa Efek Indonesia terasa seperti dihujan badai. Layar monitor berkedip merah karena IHSG jatuh 3,48 persen ke level 5.734, sementara di aplikasi messaging, angka kurs rupiah menyentuh ambang Rp17.500 per dolar AS. Di warung kopi sebelah gedung BKPM, seorang pedagang kopi dari Bandung mengibas cangkirnya dengan tenang, tapi matanya menatap layar ponsel, di mana komentar investor asing tentang “menarik modal dari Indonesia” mengalun seperti benang yang tak kunjung putus.

Ini bukan hanya angka di layar. Ini adalah saat di mana pasar berbicara, dan rakyat mendengar.

Tiga portal nasional utama, yaitu Kompas.com, Detikcom, dan CNN Indonesia, meliput fenomena ini dengan nuansa yang berbeda. Namun sekadar membaca judul dan paragraf pertama sudah cukup untuk merasakan cara mereka menempatkan narasi, ke mana mereka mengarahkan pembaca, dan apa yang mereka pilih untuk tidak katakan.

Kompas.com memilih judul investigatif: “Mengapa Investor Asing Ramai-Ramai Melepas Aset Indonesia?” Di dalamnya, tidak ada kepanikan yang sengaja dibangun. Alih-alih, ada kutipan tajam dari pakar KISI Sekuritas yang berbunyi: “Kami melihat faktor internal, sebagai mekanisme untuk mengoreksi kinerja pemerintah yang kebijakannya keliru.” Penyebab disorot bukan gejolak global, tapi ketidakpastian kebijakan domestik, seperti penerapan RKAB sektor pertambangan tepat saat rupiah melemah, justru ketika nilai tukar rendah seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong ekspor. Kompas tidak menyalahkan investor, tapi mengundang pemerintah untuk refleksi: komunikasi yang buruk membuat pasar was-was, padahal programnya mungkin sebenarnya bagus. Ini adalah jurnalisme yang tidak menghakimi, tapi juga tidak meninggalkan pembaca dalam gelap, karena ia memberikan jalan keluar lewat kejelasan dan konsistensi kebijakan.

Di Detikcom, nuansanya lebih defensif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung membela posisi pemerintah: “Fundamental ekonomi nasional saat ini masih berada dalam kondisi yang baik.” Ia tidak menyangkal tekanan pasar, IHSG turun dan rupiah melemah, tapi mengalihkan fokus ke data riil yang tetap solid, mulai dari konsumsi masyarakat hingga cadangan devisa, sambil menyebut langkah konkret yang sudah diambil berupa percepatan publikasi APBN KiTA untuk menunjukkan kondisi fiskal yang terjaga. Kalimatnya berulang seperti mantra: “Fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat.” Ini bukanlah pembenaran yang kosong, melainkan upaya untuk meyakinkan bahwa yang terlihat di pasar adalah sentimen sementara, bukan refleksi kondisi nyata. Detikcom di sini berfungsi sebagai penerjemah antara pasar dan pemerintah, mengajak investor untuk lihat lebih detail, bukan hanya menyerap narasi negatif yang beredar.

Sementara CNN Indonesia memilih jalan yang paling netral: pelaporan data murni. Judulnya “IHSG Ambruk 3,48 Persen ke 5.734 di Sesi I, Asing Jual Bersih Rp993 M” hanya menyajikan fakta berupa volume transaksi, frekuensi perdagangan, dan perbandingan antara investor domestik dan asing, tanpa analisis penyebab atau komentar pakar. Tidak ada pendapat, tidak ada arahan, hanya angka dan gerak pasar. Pada pertama kali dilihat, ini mungkin terasa kurang berisi. Tapi dalam konteks krisis reputasi, ini justru kekuatannya. Dengan menghindari interpretasi yang bisa dikenali sebagai bias, CNN memberikan ruang bagi pembaca, terutama investor global yang sensitif terhadap manipulasi, untuk membuat penilaian sendiri berdasarkan data yang bisa diverifikasi. Ini adalah jurnalisme sebagai cermin, bukan sebagai pengarah opini.

Secara bersamaan, tiga media ini menunjukkan sesuatu yang menarik dicermati. Meski berbeda dalam pendekatan, tidak satu pun dari mereka menggunakan bahasa sensasional seperti “panik massal” atau “krisis kepercayaan”. Tidak ada yang menyalahkan rakyat atau investor asing sebagai penyebab tunggal. Alih-alih, mereka masing-masing memberikan lapisan konteks, baik lewat kutipan pakar di Kompas, pernyataan resmi di Detik, atau data terukur di CNN, yang membuat fenomena #SellIndonesia tidak dibaca hanya sebagai gejala pasar semata, tapi sebagai pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana negara mengkomunikasikan kebijakan dan membangun kepercayaan di mata investor.

Yang sering terlewat dalam diskusi pasar adalah bagaimana gerakan angka ini dirasakan di tingkat yang lebih nyata. Rupiah yang lemah seharusnya menguntungkan pengusaha ekspor, tapi pedagang kopi di Bandung tadi justru terkena dampak karena harga mesin penyangrai impornya naik. Ibu rumah tangga di Surabaya yang menghitung belanja bulanan akan merasakan minyak goreng dan gula yang lebih mahal, bukan karena produksi lokal berkurang, tapi karena biaya impor bahan baku mengikuti kurs dolar yang menguat. Di sinilah narasi pasar bertemu dengan kehidupan sehari-hari, dan di sinilah pemulihan reputasi benar-benar dimulai: ketika kebijakan tidak hanya terdengar baik di ruang rapat, tapi juga terasa baik di warung kopi dan dapur rumah tangga.

Fenomena #SellIndonesia bukanlah akhir cerita. Ia adalah tanda bahwa kita perlu lebih baik dalam menjelaskan tidak hanya apa yang kita lakukan, tapi mengapa kita melakukannya, dan memastikan bahwa penjelasan itu sampai ke orang yang namanya tidak pernah muncul di laporan pasar, tapi yang hidupnya langsung terukur oleh setiap poin perubahan di layar monitor. Karena pada akhirnya, reputasi bangsa tidak diukur oleh seberapa banyak uang yang masuk atau keluar dari pasar saham, tapi oleh seberapa dalam rakyat percaya bahwa tanah ini adalah tempat di mana usaha kecil dapat tumbuh, dan harapan bisa ditanam tanpa takut akan angin berlawanan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *