Layar smartphone menyala dalam gelap. Seorang pria muda duduk di sudut sebuah warung kopi di Jakarta, jari-jarinya bergerak cepat. Dia tidak sedang bermain game. Dia sedang menciptakan narasi yang akan mengubah cara jutaan orang berpikir tentang perang—bukan perang tradisional yang terlihat di berita, tetapi perang informasi yang tersembunyi di dalam setiap algoritma media sosial.

Dunia baru ini memiliki nama: slopaganda.

Istilah ini baru, tetapi fenomenanya tidak. Slopaganda adalah perpaduan antara “slop”—konten sampah yang diproduksi secara massal oleh mesin artificial intelligence—dan propaganda klasik yang telah kita kenal selama berabad-abad. Perbedaannya sangat nyata. Jika propaganda tradisional memerlukan tim perencanaan berminggu-minggu, riset mendalam, dan koordinasi kompleks, slopaganda bisa dihasilkan dalam hitungan jam. Ribuan, bahkan jutaan versi, semua tersebar serentak di platform media sosial.

Teknologi yang seharusnya membawa kita lebih dekat ke kebenaran malah membuat kebenaran semakin sulit untuk dikenali.

Ketika Mesin Belajar Berbohong Dalam Skala Besar

Di tengah krisis nyata—perang, bencana alam, pandemi—ada sesuatu yang lebih mendesak yang terjadi di layar ponsel jutaan orang. Sistem autonomous, yang dirancang untuk mengoptimalkan engagement dan revenue, secara tidak sengaja menciptakan ekosistem sempurna untuk penyebaran misinformasi.

Ambil contoh berita palsu tentang serangan nuklir. Dulu, untuk membuat berita palsu yang convincing, Anda membutuhkan sumber daya yang signifikan. Foto yang perlu dipalsukan, narasi yang perlu ditulis dengan hati-hati agar lolos dari verifikasi basic. Sekarang? Seorang operator dengan akses ke model AI generatif bisa membuat ratusan variasi dalam satu jam. Ada versi untuk demografi pro-Barat, ada versi untuk audiens pro-Timur. Ada versi yang memanfaatkan ketakutan ekonomi, ada versi yang memanfaatkan kekhawatiran agama.

Yang paling mengerikan? Algoritma media sosial tidak membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Algoritma hanya menghitung engagement. Konten yang membuat orang marah, takut, atau terguncang secara emosional mendapat prioritas lebih tinggi daripada konten yang tenang dan faktual.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah desain sistem.

Arsitektur Propaganda di Era Autonomous

Untuk memahami bagaimana slopaganda bekerja, kita perlu memahami bagaimana sistem autonomous memproses informasi. Mesin-mesin ini dilatih untuk memprediksi apa yang akan membuat orang tetap online lebih lama. Kemarahan adalah valuta terkuat di platform ini. Ketakutan adalah minyak yang melumasi mesin engagement.

Sebuah studi dari Universitas Stanford pada 2025 menemukan bahwa konten yang mengandung unsur emosi negatif memiliki tingkat sharing 3.4 kali lebih tinggi dibanding konten netral. Dalam krisis, angka itu melonjak hingga 8.7 kali lebih tinggi.

Aktor propaganda—baik negara, kelompok ekstremis, atau bahkan individu dengan motivasi profit—memahami ini dengan sempurna. Mereka tidak lagi perlu memproduksi konten palsu yang sempurna. Mereka bisa memproduksi konten yang cukup baik, cukup menggugah emosi, dan cukup tersebar sehingga platform tidak bisa menghapusnya semua sebelum jutaan orang sudah melihatnya.

Dan di situlah letak keganasan dari slopaganda: volumenya.

Jika Anda membuat seribu versi konten palsu dan tersebar di ribuan akun, platform apa pun akan kesulitan melacak semuanya. Bahkan tim moderator terbesar sekalipun tidak bisa mengikuti laju produksi ini. Dengan waktu respons platform yang lambat—rata-rata 24 hingga 72 jam untuk menghapus konten berbahaya—narasi palsu sudah sempat mengakar dalam pikiran jutaan orang.

Krisis Nyata Menjadi Medan Pertempuran Informasi

Bayangkan Anda adalah seorang ibu rumah tangga di Jakarta yang sedang menonton berita tentang konflik internasional. Televisi menunjukkan informasi resmi. Tapi saat Anda membuka TikTok, Instagram, dan WhatsApp grup keluarga, versinya berbeda. Jauh berbeda.

Di satu channel Telegram, konten menunjukkan korban sipil dan menyalahkan salah satu pihak. Di channel lain, konten yang serupa tetapi menyalahkan pihak yang berlawanan. Foto yang sama digunakan dengan caption yang berbeda. Data yang sama diinterpretasikan dengan cara yang berlawanan. Semuanya terasa urgent, semuanya terasa real, semuanya terasa seperti Anda harus membagikannya kepada orang-orang yang Anda cintai.

Inilah yang membedakan era ini dari krisis informasi sebelumnya.

Di era sebelum AI generatif, penyebaran misinformasi masih tergantung pada kreativitas manusia. Ada bottleneck. Ada batas seberapa banyak konten palsu yang bisa diproduksi dalam waktu singkat. Sekarang? Bottleneck itu hilang. Mesin bisa menghasilkan konten dalam bahasa lokal, dengan nuansa budaya yang tepat, dengan framing yang disesuaikan untuk setiap segmen audiens. Semua dalam hitungan menit.

Algoritma Sebagai Amplifier Propaganda

Sistem autonomous yang menjalankan platform media sosial tidak dirancang dengan maksud jahat. Mereka dirancang untuk satu tujuan sederhana: membuat orang tetap engaged sehingga mereka melihat lebih banyak iklan. Dalam konteks krisis, logika ini menciptakan efek samping yang mengerikan.

Ketika konten emosional menghasilkan engagement tertinggi, algoritma memprioritaskannya. Ketika konten dari sumber terpercaya menghasilkan engagement lebih rendah, algoritma mengecilkan jangkauan mereka. Secara gradual, tanpa instruksi eksplisit untuk menyebarkan propaganda, platform menjadi saluran yang sempurna untuk penyebaran propaganda.

Inilah yang disebut “information drowning”—situasi di mana volume informasi palsu menjadi begitu besar sehingga orang tidak bisa lagi membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Rata-rata orang memiliki waktu terbatas untuk membaca, menyaring, dan memverifikasi. Ketika dihadapkan dengan ratusan informasi yang saling bertentangan, banyak yang memilih untuk percaya pada apa yang paling konsisten dengan keyakinan mereka yang sudah ada sebelumnya.

Ini adalah kemenangan propaganda. Bukan karena kebenaran mereka menang, tetapi karena kebenaran sendiri menjadi ambigu.

Senjata Baru dalam Perang Informasi

Apa yang paling mengkhawatirkan adalah kecepatan evolusi. Aktor propaganda terus mengadaptasi taktik mereka. Mereka belajar dari apa yang berhasil dan apa yang tidak. Deep learning systems mereka sendiri menganalisis engagement rate, membandingkan efektivitas berbagai framing, dan secara otomatis mengoptimalkan konten untuk hasil maksimal.

Ini bukan hanya tentang manusia yang berbohong menggunakan mesin. Ini tentang mesin yang diprogramkan untuk menemukan cara paling efektif untuk menipu jutaan orang secara bersamaan.

Selama krisis internasional pada 2025, tim analisis misinformasi dari berbagai organisasi internasional mengidentifikasi pola yang sangat terstruktur. Konten palsu tidak muncul secara acak. Mereka muncul dalam gelombang yang terkoordinasi, dengan timing yang presisi untuk memaksimalkan dampak ketika berita asli sedang beredar. Ini adalah tanda dari operasi propaganda yang sophisticated, memanfaatkan teknologi autonomous untuk scale yang sebelumnya mustahil dicapai.

Dampak pada Kepercayaan Institusi

Ketika jutaan orang tidak bisa lagi membedakan antara kebenaran dan kebohongan, kepercayaan terhadap institusi jatuh. Media mainstream dituduh bias. Pemerintah dituduh menutupi kebenaran. Bahkan platform itu sendiri dituduh berpihak pada salah satu pihak.

Dan inilah ironinya: kepercayaan jatuh tidak hanya terhadap penyebar propaganda, tetapi juga terhadap mereka yang mencoba menyebarkan kebenaran. Ketika semua suara terdengar mendesak dan penting, suara yang paling neutral sering kali terkalahkan oleh suara yang paling emosional.

Seorang peneliti dari Jakarta melakukan studi tentang bagaimana warga Indonesia menerima informasi selama krisis. Hasilnya menyedihkan: 67% dari responden mengaku mereka tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Mereka tahu ada propaganda, tetapi mereka tidak tahu di mana taruhannya. Hasil yang sama ditemukan di berbagai negara di seluruh dunia.

Pertanyaan Yang Tetap Tanpa Jawaban

Ketika sistem autonomous dan propaganda berkolaborasi—bahkan tanpa kesadaran mereka saling berkolaborasi—hasil yang tercipta adalah chaos yang terstruktur. Informasi yang melimpah tetapi kebenaran yang langka. Konektivitas global tetapi polarisasi lokal yang dalam.

Satu sosis yang basi tidak harus membunuh brand yang berusia 50 tahun. Satu video palsu tidak harus menyebabkan konflik. Satu berita hoax tidak harus mengubah suara jutaan orang. Tetapi ketika semua itu ditambah dengan skala yang massive, dengan timing yang presisi, dengan algoritma yang mengamplifikasi setiap kilatan emosi—satu sosis, satu video, satu berita bisa menjadi krisis yang tidak terbendung.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: bagaimana kita bisa menghentikan propaganda? Pertanyaannya adalah: bagaimana kita tetap manusia dalam dunia di mana kebenaran sendiri menjadi sistem yang dapat dimanipulasi oleh algoritma dan aktor propaganda yang terkoordinasi?

Layar smartphone menyala. Jari bergerak. Narasi baru dibuat. Dan jutaan orang di seluruh dunia, di warung kopi, di rumah mereka, di jalan, menerima cerita yang mereka tidak tahu apakah itu kebenaran atau kepalsuan. Mereka hanya tahu satu hal: cerita itu membuat mereka merasa sesuatu. Cerita itu membuat mereka ingin berbagi. Cerita itu membuat mereka merasa seperti mereka memahami dunia.

Mungkin itulah kemenangan propaganda terbesar di era ini—bukan bahwa orang percaya pada kebohongan, tetapi bahwa mereka percaya bahwa kepercayaan itu sendiri tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana cerita itu membuat mereka bereaksi. Cerita yang membangkitkan kemarahan adalah cerita yang berhasil. Cerita yang memicu ketakutan adalah cerita yang menang. Kebenaran? Itu sekarang hanya detail teknis yang bisa ditawar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *