Di Media Massa: Positif. Di Media Sosial: Krisis.
Infografik: Paradoks Sentimen Media Program CKG Indonesia (Sumber: BKPK Kemenkes, 2026)
Jakarta, 23 September 2026. Sebuah laporan dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan memberikan gambaran yang mengejutkan tentang cara publik memandang program kesehatan pemerintah. Hasil monitoring media periode 7-14 Agustus 2026 menunjukkan sesuatu yang paradoks: optik dan realitas tidak selalu sejalan.
Dari 2.143 pemberitaan di media massa, 68,9% bernada positif, menyentuh topik seperti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan upaya digitalisasi layanan kesehatan. Namun, ketika lensanya digeser ke percakapan di media sosial, gambaran itu berbalik drastis. Dari 3.404 percakapan di platform digital, 73,5% bernada negatif, memunculkan kritik tajam terhadap layanan BPJS Kesehatan dan keamanan pangan.
“Hoaks kesehatan saya kira yang paling viral, karena kesehatan concern semua orang,” kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam audiensi bersama Kemenkes, April 2026. Pendapatnya itu kini menemukan pembuktian data di laporan BKPK.
44 Isu Berbendera Merah
Dalam periode monitoring tersebut, dari total 88 isu yang diidentifikasi, 44 di antaranya tergolong krisis atau berbendera merah. Kontribusi terbesar datang dari kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Semarang, yang melibatkan 707 korban, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Peristiwa ini kemudian menjalar ke berbagai daerah lain, memicu kekhawatiran publik yang meluas.
Kasus keracunan ini berdampak langsung pada Sentimen Pilar 3 (Ketahanan Kesehatan), menjadikannya pilar dengan sentimen negatif terbesar. Pilar 1 (Layanan Primer) juga terdampak karena pemberitaan yang sama, ditambah laporan insiden pasca-vaksinasi di Karo yang memperkuat narasi anti-vaksinasi.
Pilar 4 tak luput dari sorotan. Keluhan sistemik terhadap BPJS Kesehatan terus berulang, sementara Pilar 5 mencatat peningkatan kritik terhadap beban kerja tenaga kesehatan dan kontroversi kematian PPDS/Internsip. Satu-satunya yang menonjol positif adalah Pilar 6 (Teknologi Kesehatan), yang mencatat sentimen paling baik berkat keberhasilan integrasi SATUSEHAT-SIAK.
swift and transparent crisis communication tactics are needed, such as publishing the results of the medical investigation into the Karo case and the MBG sanitation audit to counter the anti-vaccine narrative.
Sumber: BKPK Kemenkes, 21 Agustus 2026
CKG: Between Optik Angka dan Keraguan Publik
Program CKG menjadi salah satu program andalan dengan narasi positif di media massa. Angka 59,6 juta peserta hingga Juli 2026 memang mengesankan. Namun, sentimen publik di ruang digital menunjukkan keraguan yang berbeda sifat.
Krisis kepercayaan tidak dibangun dari angka, melainkan dari pengalaman individual. Satu cerita tentang antrean panjang di Puskesmas, satu laporan tentang alat kesehatan yang tidak tersedia, atau satu keluhan tentang hasil pemeriksaan yang tidak ditindaklanjuti bisa tersebar lebih luas dari seribu press release positif.
Kemenkes, melalui BKPK, menyadari hal ini. Laporan mereka merekomendasikan agar keberhasilan program tidak hanya disampaikan melalui statistik, tetapi melalui cerita nyata dari penerima manfaat. Pendekatan storytelling, menurut analisis tersebut, lebih efektif dalam membangun kepercayaan publik dibandingkan data agregat semata.
Double Burden of Malnutrition: Ironi Gizi yang Tak Terbaca
Di tengah euforia program skrining, satu fakta medis penting justru jarang mendapat perhatian memadai dalam narasi komunikasi publik: Indonesia tengah menghadapi double burden of malnutrition, yaitu gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan.
Data dari CKG menunjukkan bahwa lebih dari 40% anak sekolah mengalami karies gigi, 27% anemia, dan 7% gizi lebih atau obesitas. Proporsi obesitas kini hampir menyamai angka gizi kurang, menandakan transisi gizi yang kompleks.
Ironinya, program MBG yang lahir untuk mengatasi gizi kurang kini sendiri terjebak dalam krisis kepercayaan setelah kasus keracunan di Semarang. Nedengar, bukan?, seolah satu insiden mampu menghapus kerja keras perbaikan gizi di puluhan ribu sekolah lainnya.
Lessons Learned: Krisis Komunikasi yang Tidak Boleh Terulang
Apa yang bisa dipelajari dari dinamika ini?
Pertama, media massa dan media sosial adalah dua ekosistem narasi yang berbeda. Angka positif di press release tidak otomatis menjadi persepsi positif di masyarakat. Kedua, krisis yang tidak dikelola dengan cepat dan transparan akan metastasize. Laporan BKPK secara eksplisit mendesaknya agar publikasi hasil investigasi kasus Karo dan audit sanitasi MBG untuk meredam narasi anti-vaksinasi.
Ketiga, program sekelas CKG dan MBG membutuhkan lebih dari sekadar pencapaian numerik. Mereka membutuhkan kehadiran di ruang percakapan publik dengan cara yang humanis, transparan, dan responsif.
Ketika optik dan realitas berpapasan, tugas komunikasi krisis bukan memilih salah satu. Melainkan menjembataninya dengan jujur.