Sanrio dan Mbappé, Dua Permintaan Maaf untuk Satu Pasar
Sanrio membatalkan seluruh kolaborasi merchandise dengan drama televisi Jepang Vivant pada Kamis, 29 Oktober 2026. Perusahaan di balik Hello Kitty itu menyebut proyek tersebut memuat ekspresi yang bertentangan dengan filosofi korporatnya. Pembatalan terjadi hanya beberapa hari setelah sejumlah sponsor China memutus kontrak bintang Real Madrid, Kylian Mbappé, karena komentar yang menyebut Mao Zedong sebagai diktator.
Dua kasus berbeda, satu pola. Ketegangan yang sama: bagaimana brand global memperlakukan pasar China ketika konten kreatif, guyonan, atau ekspresi politik bertabrakan dengan sensitivitas negara itu. Dua-duanya berakhir dengan permintaan maaf publik, dan dua-duanya memperlihatkan batas kedaulatan brand ketika nilai pasar sebuah negara jauh melampaui nilai kreativitasnya.

Sanrio dan Ekspresi yang Tidak Selaras dengan Filosofi
Kasus Sanrio berakar pada satu episode Vivant, drama mata-mata Jepang yang ditonton luas. Dalam episode tersebut, sebuah organisasi berafiliasi China digambarkan menyiksa anggota unit mata-mata rahasia militer Jepang. Setelah reaksi keras muncul, Sanrio merilis pernyataan resmi yang menyebut pihaknya menerima umpan balik dari berbagai kalangan soal merchandise kolaborasi itu.
“Kami meminta maaf atas kekhawatiran yang mungkin timbul,” demikian bunyi pernyataan Sanrio, dikutip AFP. Perusahaan menambahkan bahwa proyek tersebut “memuat ekspresi yang tidak konsisten dengan filosofi korporat Grup Sanrio.” Keputusan akhirnya tegas: seluruh kolaborasi dihentikan, termasuk semua proyek dan kampanye promosi lanjutan.
Yang menarik dari respons Sanrio bukan permintaan maafnya, melainkan kecepatan pemutusan hubungan bisnisnya. Perusahaan tidak menunggu eskalasi lebih jauh. Ia langsung menarik diri dari proyek yang sebelumnya dianggap komersial biasa, demi menjaga pasar yang jauh lebih besar.
Mbappé dan Batas Kata di Ruang Publik
Sebelum Sanrio membatalkan kolaborasinya, Mbappé lebih dulu menghadapi gelombang serupa. Komentar yang menyebut pemimpin pendiri China itu sebagai diktator membuat setidaknya tiga perusahaan China menghentikan kerja sama dengan pesepakbola asal Prancis tersebut. Dalam pernyataan resminya, Mbappé mengakui ucapannya tidak bijak.
“Komentar saya tidak bijak, dan saya sekarang memahami bahwa itu melukai banyak orang di China dan komunitas China di seluruh dunia,” kata Mbappé dalam pernyataannya, dikutip AP. Ia menambahkan permintaan maaf kepada semua pihak yang tersinggung, menegaskan bahwa itu bukan maksudnya, dan menyatakan rasa hormat mendalam kepada masyarakat China.
Perhatikan urutan langkahnya: ujaran keluar, sponsor bereaksi cepat, permintaan maaf datang belakangan. Pola ini bukan pertama kali dan hampir pasti bukan yang terakhir. Brand atau figur publik yang tidak membaca sensitivitas pasar biasanya membayarnya dengan kontrak yang hilang dalam hitungan hari, bukan minggu.
Mengapa Pasar China Menjadi Poros Keputusan
Sanrio dan Mbappé sama-sama berhadapan dengan satu kenyataan: nilai akses pasar China bagi ekonomi kreatif dan olahraga global sangat besar. Ketika pilihan mengerucut menjadi mempertahankan sebuah episode drama atau mempertahankan akses pasar, brand hampir selalu memilih yang kedua.
Ini bukan soal keberanian atau pengecutan. Ini soal struktur insentif. Perusahaan publik punya kewajiban kepada pemegang saham, dan tanggung jawab itu biasanya diterjemahkan menjadi keputusan yang melindungi pendapatan. Permintaan maaf menjadi biaya paling murah untuk membatasi kerusakan, jauh lebih murah daripada kehilangan distribusi di pasar terbesar.
Kasus ini juga memperlihatkan sesuatu yang lebih halus: alih-alih memperdebatkan isi kritik, keduanya memilih menutup percakapan lewat permintaan maaf dan tindakan korektif.
Sanrio menghapus kolaborasi, Mbappé mencabut ucapannya. Tidak ada perdebatan publik soal Vivant sebagai karya seni, dan tidak ada pembelaan soal batas kebebasan berpendapat.
Pelajaran untuk Brand yang Beroperasi Lintas Negara
Bagi tim komunikasi di Indonesia, dua kasus ini memberi beberapa catatan praktis yang bisa dipakai jauh sebelum krisis terjadi.
Pertama, sensitivitas budaya tidak cukup dipetakan di level kampanye. Ia harus dipetakan di level materi kreatif, termasuk karya yang dibuat pihak ketiga lalu dikaitkan dengan brand. Sanrio tidak memproduksi Vivant, tetapi namanya ikut terbawa karena terikat kontrak merchandise.
Kedua, kecepatan memutus hubungan lebih menentukan daripada panjangnya pernyataan. Publik lintas negara biasanya menilai brand dari seberapa cepat ia mengambil jarak dari konten yang dipersoalkan, bukan dari seberapa fasih kalimat penjelasannya.
Ketiga, permintaan maaf tanpa tindakan struktural hanya menunda krisis. Sanrio menghentikan semua proyek lanjutan, bukan sekadar satu produk. Itu yang membuat krisisnya berhenti di satu pernyataan. Sebaliknya, brand yang mengaku salah tapi tetap melanjutkan proyek serupa hampir selalu menarik gelombang protes kedua.
“Kami telah menerima umpan balik dari berbagai pihak mengenai merchandise kolaborasi dengan drama televisi Jepang VIVANT. Kami meminta maaf atas kekhawatiran yang mungkin timbul.”
Pernyataan resmi Sanrio, dikutip AFP, 29 Oktober 2026
Batas antara Kreativitas dan Kepatuhan Pasar
Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dalam kasus seperti ini: sejauh mana brand boleh menyerahkan independensi kreatifnya demi akses pasar? Jawabannya tidak tunggal, dan bergantung pada seberapa besar pasar itu menopang bisnisnya.
Yang bisa dipelajari dari Sanrio dan Mbappé adalah bahwa keputusan itu sesungguhnya tidak diambil saat krisis pecah. Ia sudah diambil jauh sebelumnya, saat perusahaan memutuskan pasar mana yang paling menentukan, dan seberapa besar risiko budaya yang bisa ditanggung dalam kontennya.
Tim komunikasi yang baik menyiapkan peta sensitivitas itu sejak awal. Ia tahu topik mana yang berisiko di pasar A tetapi aman di pasar B, tahu siapa pihak ketiga yang membawa nama brand, dan tahu seberapa cepat ia harus bergerak ketika garis itu terlewati.
Sanrio dan Mbappé memilih jalur paling aman. Bagi mereka, permintaan maaf adalah biaya bisnis, bukan pengakuan moral. Dan dalam ekonomi kreatif yang makin terhubung, keputusan seperti itu akan terus berulang: setiap kali sebuah karya atau ucapan melintasi batas negara yang punya harga.