Harga minyak dunia sudah menembus $109 per barrel. Di Inggris, harga bensin naik 20 pence dalam sebulan, lonjakan bulanan terbesar sepanjang sejarah. Tapi di Indonesia? Harga BBM tidak bergerak sama sekali.
Sebagai warga, tentu ini kabar baik. Tapi sebagai pengamat komunikasi, kami merasa ada yang tidak beres.
Diam Bukan Emas
Minggu lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan keputusan pemerintah dengan nada santai: “Tidak ada penyesuaian naik atau turun, flat pakai harga sekarang.” Pertalite tetap Rp 10.000 per liter. Solar tetap Rp 6.800. Harga yang sudah bertahan sejak September 2022.
Lalu ada pesan tambahan: “Saya minta masyarakat info yang dipegang itu dari pemerintah, selain itu saya mohon kita lebih cerdas mengelola info.”
Di sinilah masalahnya.
Dalam situasi krisis, publik tidak butuh disuruh “cerdas mengelola info.” Mereka butuh jawaban. Berapa lama harga ini bisa dipertahankan? Apa rencana B jika perang berlanjut? Kapan waktunya menyesuaikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab. Keheningan itu menciptakan vakum, lalu diisi spekulasi di media sosial, rumor panic buying, dan narasi bahwa pemerintah “sembunyi sesuatu.”
Pelajaran dari Bank of England
BandIngkan dengan bagaimana Bank of England berkomunikasi. Mereka secara terbuka memproyeksikan 1,3 juta pemilik rumah akan melihat cicilan hipotik naik akibat gejolak energi ini. Angkanya mengerikan. Tapi transparansinya membangun kepercayaan.
Publik tahu apa yang dihadapi. Mereka bisa mempersiapkan diri.
Di Indonesia? Kita tahu harga BBM tidak naik. Kita tidak tahu seberapa besar tekanan anggaran negara. Kita tidak tahu batas waktu kebijakan ini. Kita tidak tahu skenario yang dipersiapkan.
Mempersiapkan yang Tidak Populer
Keputusan menahan harga BBM memang populer. Tapi suatu saat, mungkin bulan depan atau kuartal depan, kenaikan harga tidak bisa dihindari. Gejolak minyak dunia tidak bisa ditahan selamanya.
Pertanyaannya: apakah publik sudah siap?
Jika pemerintah tidak membangun narasi sejak dini, kenaikan harga yang akan datang akan terasa seperti kejutan yang tidak menyenangkan. Atau lebih parah lagi, seperti pengkhianatan. “Kenapa tidak bilang dari awal?” akan menjadi pertanyaan yang menghantui.
Tapi jika pemerintah secara terbuka menjelaskan konteks, membagi data, dan menyiapkan publik untuk berbagai skenario, maka keputusan tidak populer itu bisa diterima sebagai bagian dari realitas. Bukan kegagalan.
Yang Harus Dilakukan Sekarang
Kami tidak mengusulkan pemerintah harus mengumumkan kenaikan harga setiap kali minyak naik $5. Tapi ada tiga langkah komunikasi yang bisa dijalankan hari ini juga.
Pertama, bagikan konteks. Jelaskan mengapa harga bisa ditahan, apa yang dikorbankan, dan berapa lama ini berlaku. Publik lebih pintar dari yang diperkirakan. Mereka bisa menerima penjelasan yang logis.
Kedua, siapkan skenario. “Jika perang berlanjut tiga bulan, ini rencananya. Jika enam bulan, ini langkahnya.” Komunikasi seperti ini tidak menimbulkan panic. Justru sebaliknya, itu menenangkan.
Ketiga, konsisten. Jika minggu depan harga minyak turun, jelaskan. Jika naik lagi, jelaskan. Jangan muncul hanya saat ada kabar baik. Kehadiran yang konsisten membangun kepercayaan.
Soal Kepercayaan
Komunikasi krisis bukan tentang membuat publik senang. Ini tentang membuat publik mengerti.
Keputusan tidak populer, termasuk kenaikan BBM, bisa diterima jika ada alasan yang jelas dan proses yang transparan. Tapi keputusan yang tidak dijelaskan akan selalu dicurigai.
Perang Iran-Israel mungkin berakhir bulan depan atau berlanjut setahun lagi. Tapi satu hal sudah jelas: di saat ketidakpastian melanda, pemerintah yang paling dipercaya adalah pemerintah yang berani bicara jujur.
Bahkan tentang hal-hal yang tidak enak.
Kepercayaan yang dibangun di masa krisis tidak hilang begitu saja saat damai kembali. Dan sebaliknya, kepercayaan yang hilang di masa krisis sangat sulit dipulihkan.